Magister AFI UIN Sunan Kalijaga Gelar Kuliah Umum Festival Rumi Day 2026: Membaca Kembali Akal dan Cinta untuk Ruang Publik Indonesia

Yogyakarta, 29 September 2026 — Program Studi Magister Aqidah dan Filsafat Islam (AFI), Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, menggelar Kuliah Umum Festival Rumi Day 2026 bertajuk “Akal dan Cinta dalam Filsafat Rumi dan Relevansinya bagi Krisis di Ruang Publik di Indonesia.” Kegiatan yang berlangsung di Teatrikal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Prof. Syafa’atun Almirzanah, Dr. Nurlaila Effendy, dan Muhammad Nur Jabir, dengan Muhammad Aska Irfani sebagai moderator.

Kuliah umum ini berangkat dari pemikiran Jalaluddin Rumi yang tidak menempatkan akal dan cinta sebagai dua kekuatan yang saling bertentangan. Keduanya justru dipahami sebagai dua dimensi yang saling melengkapi dalam perjalanan manusia menuju kebenaran. Gagasan tersebut menjadi relevan ketika dibawa ke tengah persoalan ruang publik Indonesia, seperti polarisasi identitas, berkurangnya empati, dan berbagai ketegangan sosial.

Dalam paparannya yang berjudul “Healing the Sacred Divide: Utilizing Rumi’s Philosophy of Love and Reason in Contemporary Interfaith Frameworks,” Prof. Syafa’atun Almirzanah membahas pemikiran Rumi dalam konteks relasi antaragama dan dialog lintas tradisi. Prof. Syafa’atun merupakan Guru Besar UIN Sunan Kalijaga yang juga mengampu mata kuliah Tasawuf di Program Studi Magister Aqidah dan Filsafat Islam. Dalam pemaparannya, ia menunjukkan bagaimana konsep cinta dan akal dalam pemikiran Rumi dapat dibaca sebagai sumber etis dan spiritual dalam merespons keterbelahan dan ketegangan di ruang publik.

Dari perspektif psikologi, Dr. Nurlaila Effendy menyampaikan materi bertajuk “Beyond Harmony: Flourish & Spirit Centric.” Ia mengajak peserta melihat manusia secara lebih utuh dengan menghubungkan dimensi intelektual, emosi, spiritualitas, dan gagasan tentang flourishing. Nurlaila merupakan dosen Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya sekaligus Ketua Asosiasi Psikologi Positif Indonesia.

Sementara itu, Muhammad Nur Jabir membawa peserta lebih dekat kepada teks-teks Rumi melalui pembahasan tentang akal dan cinta dalam Matsnawi. Ia menjelaskan pembedaan antara akal parsial (aql juz’i) dan akal universal (aql kulli), serta menunjukkan bahwa kritik Rumi bukanlah penolakan terhadap akal, melainkan kritik terhadap akal yang bekerja dalam keterbatasan ego dan pengalaman indrawi.

Bagi Program Studi Magister AFI, kegiatan ini menjadi ruang penting untuk mempertemukan kajian filsafat Islam, tasawuf, psikologi, dan studi antaragama dalam membaca persoalan kontemporer. Acara kemudian ditutup dengan penampilan musisi dan penyair Panji Sakti yang membawakan dua lagu, menghadirkan nuansa reflektif yang mempertemukan pemikiran, spiritualitas, dan ekspresi seni dalam rangkaian Festival Rumi Day 2026. (admin)